Global Conference on Open Source

Pada tanggal 26-27 Oktober 2009 lalu saya berkesempatan mengikuti sebuah konfrensi tentang Open Source yang bertajuk Global Confrence on Open Source di Hotel Shangri La Jakarta. Konfrensi ini merupakan pertemuan yang mengundang banyak pakar-pakar dalam dunia Open Source. Menteri Telekomunikasi dan Informatika Tifatul  Sembiring yang baru saja terpilih dalam kabinet turut dalam pembukaan konfrensi ini. Sunil Abraham (Excutive Director at the Centre for Internet and Society (CIS) India, Marino Marcich (Managing Director of ODF Alliance, Hong-Eng Koh (Regional Director, Asia South Goverment Education & Healthcare Sun Microsystems.Inc sampai Onno W Purbo pun nampak hadir pada acara tersebut.

Konfrensi ini dilaksanakan dalam 2 hari pertemuan di hotel Shangri La dan 1 hari di  adakan di Gedung Auditorium BPPT yang menghadirkan Richard Stalman (GNU/GPL Founder) atau lebih dikenal sebagai bapak pergerakan Free Software.

Hari pertama diisi oleh talkshow mengenai dari beberapa Narasumber yang membicarakan mengenai Bennefits of Open Source untuk Goverment dan Citizen. Banyak hal yang dibicarakan dalam talkshow tersebut seperti Reason NOT to do Open Source, bagaimana mendevelop ICT Industry di Indonesia.

Acara ini lebih mengedepankan mengapa kita harus menggunakan Free Open Source Software (Why FOSS?). Ada beberapa hal yang penting mengapa kita harus menggunakan FOSS antara lain:

Technology : Need for Software, Aspek Legalitas (UU 19/2002), Economic (Budget Capital) ini dapat mengurangi beban biaya negara untuk membeli software lisesnsi dengan harga yang sangat mahal, Security (Information Security), Politics (Sovereignity), Foreign Policy.

Acara ini juga dihadiri oleh banyak komunitas dan penggiat Open Source, antara lain disana nampak komunitas Ubuntu Indonesia, Blender Indonesia yang kemudian pada hari kedua saya mengikuti workshopnya.

Hari kedua merupakan workshop yang bisa kita ikuti ada tiga topik yang diselenggarakan, Character Animation using Blender, FOSS for Health dan Network Analysis & Trouble shooting @ Enterprise.

Saya kebetulan mengikuti Workshop Character Animation using Blender, pembicara di worshop tersebut adalah Adez Ulia seorang Animation Producer, dia merupakan seorang 3D Artis dan Founded Animator Forum Indonesia. Dia juga merupakan salah satu animator di film Meraih Mimpi.

Hari ketiga bertempat di Gedung Auditorium BPPT dengan pembicara Richard Stallman yang merupakan founder GNU/GPL, pada tahun 1983 memulai pergerakan untuk menggunakan Free Open source. Richard Stallman mengatakan bahwa Free Software adalah :

Free to Help Other (Gotong Royong).

Freedom to Contribute the Comunity.

Free software merupakan software penaklukan.

Free Software is Design for free distribution copies (freedom)

Advertisements

Exploring Kepulauan Seribu

Hohoho…. tanggal 14 November lalu gua berkesempatan mengunjungi kepulauan Seribu. Jadwal gua disana cuma 2 hari, sabtu pagi berangkat minggu sore dah sampe Jakarta lagi.

Gua berangkat bareng temen-temen kantor lama gua, tujuan kita adalah pulau Pramuka. Dari Jakarta kita bisa naik kapal dari Muara Angke. Kapal ini emang angkutan umum buat ke Pulau Pramuka. Keberangkatan kapal ke Pulau Pramuka biasanya cuma ada dua kali pemberangkatan  jam 7 pagi dan jam 2 siang. Jam 6.30 gua udah nyampe di Muara Angke. Ternyata kapal sudah mulai penuh, rame sama rombongan orang Jakarta yang mau liburan. Di atas kapal gua juga temuin beberapa reporter televisi lokal yang sedang bikin liputan tentang Kepulauan Seribu.

Untuk menepuh pulau Pramuka diperlukan 3 jam perjalan dengan menggunakan kapal ini. Lain halnya kalau menggunakan kapal boat mungkin cuma setengah jam. Gua duduk di atas atap dek kapal bersama rombongan wartawan televisi dan turis lokal yang udah siap dengan kamera SLR yang dibawanya, sibuk motretin laut, kapal lewat dan gua berharap kena dikit kepotret hahaha….

Sekitar jam setengah sebelas kapal merapat di Dermaga Pulau Pramuka. Temen gua udah menyewa satu vila atau gua menyebutnya sebagai rumah penduduk yang disewakan sebagai tempat kita beristirahat dan bermalam. Sambil menunggu makan siang gua nyempetin liat-liat sekitaran pulau, pulau ini seperti lumayan padat penduduknya. Rumah sakit pun sudah ada di pulau ini. Cuma listrik PLN belum menjangkau Pulau ini, penduduk sekitar menggunakan Genset yang beroperasi mulai jam 4 sore sampai jam 7 pagi. Setelah itu listrik di pulau ini padam.

Tujuan kita selanjutnya adalah mengunjungi Pulau Air dan Semak Daun untuk snorkling. Kesana kita dapat menggunakan perahu nelayan berkekuatan sekitar 2pk yang memang disewakan oleh nelayan sekitar. Di sana kita pun dapat menyewa alat-alat snorkling seperti google,  pelampung dan kaki katak. Bahkan kalau kita mau menyelam pun disana banyak yang bisa menyewakan alat selam beserta pemandunya.

Jam 12.00 kita semua berangkat menuju Pulau Air sekitar setengah jam menggunakan perahu. Pulau ini merupakan pulau kosong yang gua denger milik salah satu pengusaha Jakarta. Pulau ini sanagt bersih dan jernih airnya, pantainya landai berwarna hijau bening sehingga kita dapat melihat sampai kedasarnya. Karen kita masih amatir dalam dunia bawah laut kita latihan dulu lah di pulau ini sebelum kita snorkling di tengah laut nanti. Kalau ke pulau ini jangan lupa nyiapin sunblock sama kacamata hitam asli panasnya terik banget. Di pulau ini banyak juga rombongan yang tadi sekapal sama kita dari Jakarta lagi snorkling di pinggir pantai.

Jam 3 an kita lanjut ke sekitaran Pulau Semak Daun, kita langsung ke tengah-tengah laut untuk snorkling. Dari sini kita bisa menyaksikan taman laut yang dipenuhi soft coral, tapi gua sarankan jangan menyentuh apapun yang kita lihat disana, bahaya binatang laut yang ga kita tahu malah bisa bikin kita cidera.

Sekitaran jam 5 kita balik ke penginapan, setelah seharian berpanas-panasan di tengah laut. Malamnya gua sempatkan buat keliling pulau, pulau ini tidak terlalu besar tapi padat dengan perumahan penduduk.

Esok harinya gua juga menyempatkan buat ke penangkaran penyu, buat yang suka kano di sana juga disediakan penyewaan kano. Foto-foto sambil menunggu kapal untuk balik ke Jakarta jam 1 siang dan berharap gua bakal ke Pulau ini lagi khusus untuk Diving.

Lets Back to Jakarta….

Exploring Cirebon

Yap… mulai mencoba menulis kembali, sebenarnya banyak yang pengen gua tulis ke dalam blog ini cuma akhir-akhir ini banyaknya kerjaan yang bikin nulis blog jadi tertunda.

Exploring Cirebon… haha… gara-gara temen kantor gua nikahan di Cirebon gua berkesempatan buat kesana plus menjelajahi kotanya sekalian… sekali dayung dua tiga pulau terlampaui… hahaha noraaak… ke Cirebon kali ini gua rencanain cuma satu hari aja dan pulang pada sore harinya.

6 Desember 2009 memulai bersiap-siap menuju stasiun Gambir, gua naik kereta Bisnis Cirebon Express keberangkatan jam 6 pagi. Klo hari biasa bukan hari libur dapetin tiket sih gampang-gampang aja, kebetulan gua berangkat pas bukan hari libur nasional jadi sepi-sepi aja.  Untuk kelas bisnis seharga 70 ribu, klo mau dingin ga kepanasan ya tinggal nambah 15 ribu buat tiket eksekutif. Kebetulan gua berangkat bareng 3 orang temen kantor gua. 5.30 gua udah nyampe Gambir, menanti kereta jam 6 pagi. Tepat jam 6 kita langsung naik ke kereta. Kebetulan slah satu temen gua naik kereta eksekutif jadi beda gerbong dengan gua dan kedua orang temen gua lainnya. Klo boleh dibilang kelas bisnis ini lumayan nyaman, keretanya bersih lah seenggaknya, karena sepanjang perjalanan ada cleaning service nya gua liat selalu membersihkan sampah yang dihasilkan para penumpang. Buat seorang backpaker kereta bisnis ini cukup nyaman lah, gua pun nyempetin masuk ke gerbong eksekutif yah lebih nyaman lah karena dilengkapi AC, dibandingin kelas bisnis yang gua tumpangin kelas eksekutif ini justru lebih banyak penumpangnya, tiap bangku terisi. Sedangkan di kelas bisnis banyak bangku kosong yang tersedia. Bahkan gua bisa tiduran di bangku kosong itu.

Perjalanan Jakarta – Cirebon biasanaya ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam, namun gua baru  sampai di Cirebon sekitar pukul 10 pagi. Wah agak-agak lama juga, untungnya gua dikereta bareng temen-temen gua yang lumayan bisa diajak becanda hahaha… Yudhi dan Titis… jadi lumayan ga ngerasa bad mood 😉

Sesampainya di Stasiun Cirebon gua harus malanjutkan ke Tempat Resepsi temen gua di Hotel Jamrud yang bisa ditempuh menggunakan becak dari stasiun Cirebon. Sempet mengabadikan stasiun Cirebon dan jadi tukang foto dadakan temen-temen gua yang agak narsis hehe… gua langsung ke Hotel Jamrud. Kota ini tidak terlalu ramai dengan kendaraan, dari info yang gua lihat dari internet, kota ini ramai pada hari-hari tertentu. Misalnya tanggal 1 muharram, yah kota ini memang lekat dengan Penyebaran Agama Islam. Karena di kota ini terdapat 4 Keraton yang juga asal dari Sunan Gunung Jati salah satu dari sembilan penyebar agama Islam di Pulau Jawa.

Nyempetin makan Empal Gentong khas Cirebon di Resepsi temen gua, Jam 2 Resepsi  temen gua kelar … yeahhh… It’s time to Exploring Cirebon… karena temen-temen gua gila kondangan… dan mereka semua harus balik ke Jakarta Yudhi, Itaq, Titis dan Diyah,, dengan jiwa backpacker yang membara gua putuskan menjelajah kota ini sendirian hahaha….

Setelah gua browsing sebelumnya potensi wisata kota ini… memang tidak banyak yang gua dapatkan, rata-rata menceritakan tentang Keraton yang ada di Cirebon dan kota  pelabuhan. Sebenarnya ada 4 keraton di Cirebon tapi yang paling terkenal adalah Keraton Kasepuhan… ini tujuan gua  yang pertama. Klo dari stasiun Cirebon bisa ditempuh dengan becak selama 15 menitan. Keraton Kasepuhan dibangun 1529 sebagai perluasan dari Keraton tertua di Cirebon, Pakungwati, yang dibangun oleh Pangeran Cakrabuana, pendiri Cirebon pada 1445. Kejayaan keraton ini juga terlihat dengan sebuah bangunan masjid yang bernama Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang ada dalam kompleks Keraton Kasepuhan, begitu indah dan dibangun 1549.

Keraton Cirebon  sangat erat kaitannya dengan Sunan Gunung Jati salah satu dari Wali Songo. Beliau merupakan pemimpin spiritual, sufi, mubaligh dan da’i pada zamannya juga sebagai pemimpin rakyat, karena beliau menjadi raja (sultan) di kesultanan Cirebon.

Masuk kekawasan ini gua harus membeli tiket masuk seharga 2500 rupiah dan mengisi buku tamu. Biasanya ada yang menawarkan sebagai guide. Masuk ke kawasan Keraton  kita akan disambut oleh Gerbang terbuat dari bata bercat putih. Setelah masuk kearea keraton gua masuk ke sayap kiri keraton di sana ada rombongan ibu-ibu dari Jakarta juga karena gua ga pake Guide yah… nebeng-nebeng info aja hehe…

Didalam bangunan ini kita dapat menjumpai kereta Barong, namun sejak 1942, kereta ini tidak dipergunakan lagi, dan hanya dikeluarkan tiap 1 Syawal untuk dimandikan.  Didalam bangunan ini juga gua lihat peninggalan keris, pedang dan meriam portugis.

Kemudian gua beranjak ke pedopo utama, tempat para raja-raja melakukan pertemuan. Ngobrol-ngobrol dengan salah satu penjaga di sana tempat ini ramai digunakan sebagai tempat upacara apabila ada hari besar Islam. Di belakang bangunan ini terdapat kediaman keturunan Keraton Cirebon ini, untuk pengunjung tidak dapat masuk kekawasan itu.

Bangunan ketiga yang gua masukin adalah tempat penyimpanan benda-benda pusaka, letaknya di sayap kanan keraton kasepuhan ini. Didalamnya agak gelap dan lemari-lemari disana terlihat agak kusam. Banyak peninggalan dari Sunan Gunung Jati seperti rebana, gamelan, keris, tombak dll. Ngobrol dengan salah satu penjaga di sana, dia malah sempat menawarkan konsultasi dengan keturunan keraton disana… Yah mungkin dengan imbalan dana lah hehe…

Sebenarnya gua pengen menyempatkan ke Keraton Kanoman yang masih saudara keraton Kasepuhan. Berdasarkan catatan sejarah, ketika Sunan Gunung Jati masih hidup, Cirebon hanya memiliki satu keraton. Namun, setelah meninggal, keraton berhasil dipecah menjadi dua oleh Belanda. Keraton pertama yang ada adalah Keraton Kasepuhan. Cuma karena kendala waktu, gua ga jadi kesana. Rute gua selanjutnya ialah Pelabuhan Cirebon. Kenapa gua pilih ini  karena Cirebon dikenal sebagai kota pelabuhan. Sekitar jam setengah 4 gua berjalan kaki dari Keraton Kasepuhan ke daerah pelabuhan, sekitar 20 menit jalan kaki luamayan lah panas udara kota Cirebon yang ga jauh beda sama Jakarta… untung ada souvenir anduk resepsinya temen gua yang bisa diberdayagunakan hehehe… dari pelabuahan Cirebon terlihat kapal-kapal besar barsandar, ga jauh dari situ ada taman hiburan yang bernama Taman Ade Irma Suryani, tapi hari itu nampak sepi…  ga jauh dari situ nampak Bank Indonesia yang berdiri dengan balutan cat berwarna Putih, nampak seperti bangunan Belanda tapi sangat terawat. Pelabuhan ini tidak nampak aktifitas yang sibuk hanya beberapa kapal nampak sedang bersandar dan menurunkan muatannya. Disisi pelabuhan nampah gudang-gudang tua peninggalan VOC, bahkan di sisi atas depan bangunannya masih tercetak tahun pembangunan bangunan tersebut juga tulisan VOC yang masih terbaca dengan jelas. Kini bangunan-bangunan itu nampaknya digunakan oleh perusahaan-perusahaan ekspedisi swasta.

Yap setelah menelusuri  kawasan pelabuhan gua menyempatkan ke alun-alun kota Cirebon disamping alun-alun terdapat sebuah Masjid Megah bernama At-Taqwa gua menyempatkan buat solat ashar dulu disana…, masjid ini tampak modern dilengkapi sebuah menara yang pengunjungnya dapat menaikinya sampai keatas. Alun-alun ini tampak seperti alaun-alun Jogja namun lebih kecil biasa buat warga Cirebon menghabiskan waktu sorenya.

Jam 17.00 kereta gua sudah menunggu dan gua harus segera balik ke Jakarta, dengan menggunakan Eksekutive Cirebon Express . Back to Rock City Jakarta hahaha…